<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d7797340\x26blogName\x3dDini+Shanti\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dSILVER\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://drshanti.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://drshanti.blogspot.com/\x26vt\x3d-3780157868310786976', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Definisi Cinta

Baru denger dari temen yang tau suatu kalimat tentang cinta dari film harusnya..
"I see love as this escape of two people who don't know how to be alone"

Hmm..
Se simple itu kah?
Atau itu hanya satu dari sekian banyak definisi cinta?

Kalau aku, selalu melihat cinta seperti cinta orang tua ke anak nya..
Tapi apa iya cinta ke anak itu bisa di terapin ke orang lain?

"I see the world in her eyes, I see her in the world"

"Love comes in an instant, and lasts 3 days after forever"

5 Comments:

Blogger isya & ayya said...

you should see brokeback mountain mba ;-P
a whole new definition of love..
sigh....

/nadia

April 11, 2006 1:40 PM  
Blogger Guspati said...

Love...a very subjective topics.its all depends on ourself to interprete the love is...

May 03, 2006 11:24 AM  
Blogger Wirayudha said...

Sebuah Definisi Cinta
Kamis, 15 Maret 2007
Oleh : Arvan Pradiansyah
Publikasi: www.swa.co.id

Dua sahabat wanita bertemu sesudah bertahun-tahun terpisah. “Bagaimana

kabar putramu?” tanya yang satu.

”Putraku? Kasihan dia!” jawab yang lain mengeluh. ”Ia menikah dengan

seorang gadis yang tak mau bekerja sedikit pun: tak mau memasak,

mencuci dan membereskan rumah. Yang dilakukannya hanya makan dan tidur.

Anakku yang malang bahkan harus mengantar sarapannya ke tempat tidur.

Apa kamu bisa percaya itu?”

”Kasihan! Dan bagaimana putrimu?”
”Oh, ia itu sungguh beruntung! Ia menikah dengan malaikat yang tak

membiarkannya mengerjakan apa pun. Ia punya banyak pembantu untuk

memasak, mencuci dan membereskan rumah. Dan setiap pagi suaminya

mengantarkan sarapan ke ranjang. Yang ia kerjakan hanyalah tidur,

beristirahat dan bersantai-santai sepanjang hari.

Para pembaca yang budiman, apa pendapat Anda mengenai cerita di atas?

Ternyata, sesuatu yang persis sama dapat dilihat dari sudut pandang

yang sama sekali berbeda tergantung pada posisi dan kepentingan kita

sendiri. Kita memang cenderung mementingkan diri sendiri dan selalu

melihat sesuatu dari kepentingan kita. Bahkan, baik- buruk suatu

peristiwa sangat tergantung pada terganggu-tidaknya kepentingan kita.

Inilah sumber segala permasalahan yang kita hadapi.

Perubahan yang besar, revolusioner dan menakjubkan akan terjadi begitu

kita mampu melihat sebuah masalah dari sudut pandang orang lain,

terutama dari sudut pandang pihak-pihak yang berseberangan dengan kita.

Inilah definisi saya mengenai cinta. Menurut saya, cinta adalah

kemampuan kita melihat dari sudut pandang orang lain, merasakan apa

yang dirasakan orang lain, bahkan menghayati suasana kehidupan orang

lain.

Definisi ini sangat sederhana, tetapi amat sulit dipraktikkan. Yang

pertama harus kita kalahkan adalah ego. Kita sering menganggap

penderitaan kita sebagai masalah terpenting di dunia. Misalnya, Anda

sedang menderita sakit gigi, sementara di saat yang bersamaan banyak

orang yang tertimpa musibah banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan

sebagainya. Pertanyaannya, masalah apakah yang menurut Anda paling

penting? Tentu, sakit gigi Anda, bukan?

Jadi, pertama-tama, kita harus menyadari kecenderungan kita yang selalu

menganggap masalah kita sendiri sebagai masalah terpenting. Hal ini tak

akan pernah melahirkan cinta. Cinta hanya dapat lahir dari kesadaran

bahwa masalah yang dihadapi orang lain juga amat sangat penting. Kita

harus mampu merasakan, menyelami dan menghayati situasi orang lain.

Kemampuan inilah yang saya sebut dengan cinta.

Kalau Anda memiliki masalah dengan bawahan, cobalah bayangkan diri Anda

yang berada pada posisinya. Pasti Anda akan menemukan berbagai kejutan

yang mencerahkan. Suatu pekerjaan yang sangat sederhana bagi Anda, bagi

bawahan mungkin membutuhkan waktu berjam-jam untuk memikirkannya. Kalau

Anda memiliki masalah dengan atasan, cobalah tempatkan diri Anda di

posisinya. Boleh jadi, atasan Anda sedang menghadapi tekanan yang hebat

dari atasannya lagi yang membuatnya begitu tertekan.

Kalau Anda memiliki masalah dengan pasangan, cobalah bayangkan kalau

Anda bertukar posisi. Lihatlah masalah dari sudut pandang pasangan

Anda. Saya yakin, Anda akan lebih menghargai, mencintai dan

memaafkannya. Begitu juga dengan pembantu Anda di rumah. Beberapa waktu

lalu, pembantu saya kehilangan saudaranya yang sangat ia sayangi yang

meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Ia sangat bersedih,

sebentar-sebentar air matanya menetes. Ia benar-benar merasa kehilangan

dan sangat sulit memercayai kejadian tersebut. Saya bisa berempati,

merasakan apa yang ia rasakan, dengan cara masuk ke dalam situasinya.

Saya bukannya membayangkan apa yang terjadi bila salah seorang saudara

saya meninggal dunia. Situasi seperti itu tidak pararel dan tidak akan

seimbang dengan apa yang ia alami. Alih-alih, saya membayangkan diri

saya yang sedang bekerja jauh dari rumah, di sebuah tempat yang relatif

asing bagi saya. Saya merasakan betapa beratnya merasakan duka

sendirian di perantauan, di mana kita tak memiliki kesempatan yang

cukup untuk berbagi perasaan dengan orang-orang terdekat kita.

Dengan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, kita akan

senantiasa diliputi perasaan cinta dan belas kasih yang tak pernah

putus. Kita juga akan merasa bahwa sesungguhnya – terlepas dari begitu

besarnya perbedaan di antara kita – kita adalah satu. Kita benar-benar

merupakan suatu kesatuan. Inilah yang disebut cinta dan inilah

sebenarnya hakikat spiritualitas.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan cerita menarik. Ini tentang

seorang anak SD yang miskin bernama Joni yang hanya memiliki seorang

sahabat di kelasnya. Joni sering diejek dan dihina teman-temannya.

Suatu ketika menjelang ulang tahun Joni, sahabatnya membayangkan betapa

hari itu akan merupakan hari yang paling menyedihkan bagi Joni. Betapa

tidak, tak ada orang yang akan mengucapkan selamat ulang tahun. Tak ada

kue ulang tahun, tak ada hadiah, tak ada yang peduli. Karena itu, si

sahabat menceritakan hal ini kepada ibunya dengan harapan sang ibu

dapat menolongnya.

Dan di hari berbahagia itu, sang ibu membuat kejutan. Ia muncul di

pintu kelas anaknya sambil membawakan kue dengan lilin yang menyala,

menyanyikan lagu ulang tahun kemudian menyalami Joni yang hanya

tertegun meneteskan air mata menyaksikan kejutan tersebut. Berpuluh

tahun kemudian peristiwa ini dikenang sahabatnya sebagai salah satu

peristiwa yang paling indah dalam hidupnya. Ia mengatakan, ”Aku hampir

tak bisa mengingat lagi nama teman-temanku yang ikut merayakan ulang

tahun itu. Aku pun tak tahu lagi di mana Joni sekarang berada. Tapi

setiap kali aku mendengar lagu yang sangat kukenal itu, aku ingat hari

itu, saat nada-nadanya berbunyi sangat indah: di dalam suara Mama yang

lembut, cahaya dalam mata seorang anak laki-laki dan kue yang paling

manis.”

June 13, 2007 11:21 AM  
Blogger alsya w said...

This comment has been removed by the author.

April 27, 2008 10:47 PM  
Blogger alifa_1412@yahoo.com said...

cinta yang paling tulus sampai saat ini ya saya anggap cinta ibu pada saya atau sebaliknya cinta saya pada ibu.
cinta yang paling tinggi cinta hamba pada sang pemilik jiwa ataupun sebaliknya
cinta semu : cinta saya pada orang lain dalam artian lawan jenis yang belum terikat pada ikatan yang sah alias pernikahan.
cinta sejati adalah cinta antara sepasang suami istri, mencintai karena Allah dan berpisah juga karena Allah (maut) dan dipertemukan kembali di surgaNya..

March 07, 2009 4:48 PM  

Post a Comment

<< Home